Selasa, 14 Januari 2014

al-yaqin dan al-syaq

BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar belakang
Kaidah-kaidah fiqih yang ada dalam khazanah keilmuan qawaid al fiqhiyyah pada dasarnya tebagi dalam dua kategori. Pertama adalah kaidah fiqih yang hanya diperuntukkan untuk masalah individu dan masalah ibadah dalam arti hubungan vertikal antara setiap individu dengan Allah. Kedua, kaidah fiqih yang memang sengaja dimunculkan untuk menyelesaikan beberapa masalah terkait dengan hubungan yang bersifat horizontal antar manusia itu sendiri, selain memang di dalamnya terdapat nilai-nilai hubungan vertikal karena beberapa obyek yang menjadi kajian adalah hukum Islam yang tentu saja itu semua bersumber dari Allah.
Dalam pembahasan ini pemakalah akan mencoba untuk membahas kaidah Alyaqin La Yazulu Bisyakki. Menurut penulis, bahwa kaidah ini sangat menarik untuk dibahas karena merupakan kaidah yang berisi tentang al-yaqin dan asy-syak.
Kaidah ini menghantarkan kepada kita kepada konsep kemudahan demi menghilangkan kesulitan yang kadang kala menimpa kepada kita, dengan cara menetapkan sebuah kepastian hukum dengan menolak keragu-raguan. Dan telah diketahui akibat dari keragu-raguan adalah adanya beban dan kesulitan, maka kita diperintahkan untuk mengetahui hukum secara benar dan pasti sehingga terasa mudah dan ringan dalam menjalankan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya, termasuk didalamnya adalah aqidah dan ibadah


2.      Rumusan masalah
a.    Pengertian Al Yaqin dan Al-Syak
b.    Macam-macam Kaidah Cabang Al Yaqinu La Yuzalu Bi al-Syak
c.    Hubungan kaidah al-yaqin dan al-syak dalam beberapa bidang







BAB II
PEBAHASAN
  1. Pengertian Al Yaqin dan Al-Syak
Al-yaqin adalah sesuatu yang tetap karena penglihatan pancaindra atau dengan adanya dalil. Adapula yang mengartiakn bahwa yang dimaksud  al-yaqin yang disertai dengan ilmu pengetahuan tentang sesuatu yang membawa kepada kepstian dan kemantapan hati tentang hakikat seuatu itu, dalam arti tidak ada keraguan lagi.
Al-syak adalah suatu pertentangan antara kepastian dengan ketidakpastian tentang kebenaran da kesalahan dengan kekuatan yang sama, dalam arti tidak dapat dipilih mana yang paling benar diantara keduanya.[1]
Menurut Imam Al-Jurjani Al-Yaqin adalah ”meyakini sesuatu bahwasanya ”begini” dengan berkeyakinan bahwa tidak mungkin ada kecuali dengan ”begini” cocok dengan realita yang ada, tanpa ada kemungkinan untuk menghilangkannya”. Pengertian al-ya-yaqin dan al-syaq menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:
·      Imam Abu Al-Baqa’ Al-Yaqin adalah ”pengetahuan yang bersifat tetap dan pasti dan dibenarkan oleh hati dengan menyebutkan sebab-sebab tertentu dan tidak menerima sesuatu yang tidak bersifat pasti”.
·      As-Suyuthi menyatakan Al-Yaqin adalah ”sesuatu yang tetap dan pasti yang dapat dibuktikan melalui penelitian dan menyertakan bukti-bukti yang mendukungnya”.
·       Imam Al-Maqarri Asy-Syakk adalah ”sesuatu yang tidak menentu (meragukan) antara ada atau tidak ada”.
·       Imam Al-Jurjani Asy-Syakk adalah ”sesuatu yang tidak menentu (meragukan) antara sesuatu yang saling berlawanan, tanpa dapat dimenangkan salah satunya”.
Dasar  pengambilan hukum tentang al-yaqin dan al-syak dapat diliht dari beberapa hadits berikut:[2]
“Abdullah ibn zaid berkata: kepada nabi diadukan tentang seeorang yang selalu merasakan bahwa di telah mengeluarkan angin dalam sembahyang. Maka nabi menjawab jangan lah dia berpalin dari sembahyangnya sehingga dia mendengarkan suara atau mencium sesuatu”. (H.R. Bukhari dan Muslim)

“Apabila salah seorang diantarakamu ragu-ragudalam mengerjakan sholat dan tidak mengetahui berapa rokaat itu telah sholat (dikerjakan), tiga atau empat rakaat, maka hendaklah ia menghilangkan keraguan itu dan tetap dengan apa yang diyakininya” (H.R. Muslim dan abi sa’id al kudri)

2.      Macam-macam Kaidah Cabang Al Yaqinu La Yuzalu Bi al-Syak [3]
·         الْأضصْلُ بَقاءُ مَاكَانَعَلَى مَاكَانَ (Asal itu tetap sebagaimana semula bagaimanapun keberadaannya)
Kaidah ini menjelaskan bahwa setiap perkara yang telah memiliki status hukum yang pasti sebelumnya, harus tetap dipertahankan sebagaimana kondisi hukum semula, hukum tersebut tidak bisa diubah, selama belum ada bukti kuat dan meyakinkan yang bisa mengubahnya.
Contohnya, Aminah meyakini bahwa ia telah berwudhu (suci), tetapi kemudian ia ragu apakah sudah batal atau belum. Berdasarkan kaidah ini ia tetap dihukumi punya wudhu. Sebab, sebelumya ia yakin bahwa ia telah berwudhu. Keyakinannya tersebut tidak bisa dihilangkan denga keraguannya yang mengatakan bahwa ia telah mengalami hadas, dan contoh lain seperti Fandi memiliki hutang kepada Anton. Fandi kemudian mengaku bahwa ia telah membayar hutang tersebut, tetapi anton tidak mengakuinya. Dalam hal ini, Fandi tetap dihukumi punya hutang, sampai ia benar-benar mampu membuktikan bahwa dirinya telah membayar hutangnya kepada Anton
·         لْأَصْلُ بَرَءَةُ الذِمَّةِ (Hukum asal adalah bebasnya seseorang dari tanggung jawab)
Pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan bebas dari tuntutan, baik hal Allah maupun hak Adami. Setelah dia lahir muncullah hak dan kewajiban pada dirinya. Contohnya, anak kecil bebas dari tanggung jawab melakukan kewajiban sampai ia baligh dan tidak ada hak dan kewajiban antara pria dan wanita yang bersifat pernikahan sampai ada bukti adanya akad nikah yang sah.
·         الْأَصْلُ الْعَدَمُ (Hukum asal adalah ketiadaan)
Kaidah ini dapat lebih jelas dengan kaidah الْأَصْلُ فِي الصِّفَاتِ الْعأرِضَةِ الْعَدَمُ (hukum asal pada sifat-sifat yang datang kemudian adalah tidak ada), misalnya apabila terjadi persengketaan antara penjual dan pembeli tentang aib (cacat) barang yang diperjualbelikan, maka yang dianggap adalah perkataan si penjual, karena pada asalnya cacat iti tidak ada. Ada pula ulama’ yang menyatakan, karena hukum asalnya adalah akad jual beli telah terjadi. Sudah tentu ada kekecualian yaitu apabila si pembeli bisa memberikan bukti yang meyakinkan bahwa cacat barang itu telah ada ketika barang tersebut masih ditangan penjual.
·         الْأَصْلُ فِي كُلِّ حَادِثِ تَقَدِّ رُهُ بِأَقْرَبِالزَّمَأنِ  (Asal setiap kejadian dilihat dari waktu yang terdekat)
Kaidah diatas terdapat dalam kitab-kitab madzhab Syafi’i, sedangkan dalam kitab-kitab madzhab Hanafi juga terdapat الْأَصْلُ إِضَفَةُ الْحأدِثِ إِلَى أقْرَبَ أَوْقَاتِهِ (Hukum asal adalah penyandaran suatu peristiwa kepada waktu yang lebih dekat dengannya) secara substansi sama saja. Apabila terjadi keraguan karena perbadaan waktu dalam suatu peristiwa, maka hukum yang ditetapkan adalah menurut waktu yang paling dekat kepada peristiwa tersebut, karena waktu yang paling dekat yang menjadikan peristiwa itu. Kecuali ada bukti lain yang meyakinkan bahawa peristiwa tersebut telah terjadi pada waktu yang lebih jauh. Misalnya, Seorang wanita sedang mengandung, ada yang memukul perutnya, kemudian keluarlah bayi dalam keadaan hidup dan sehat. Selang bebarapa bulan, bayi itu meninggal. Maka, meninggalnya bayi itu tidak disandarkan keapada pemukulan yang terjadi pada waktu yang lama, tetapi disebabkan hal lain yang merupakan waku paling dekat dengan keamtiannya.

·         الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ حَتَّى يَدُلَّ الدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ (Hukum asal segala sesuatu adalah kebolehan sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya)
Contohnya, apabila ada binatang yang belum ada dalil yang tegas tentang keharamannya, maka hukumnya boleh dimakan. Dikalangan madzhab Hanafi ada pula الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْحَظَرُ (Hukum asal segala sesuatu adalah larangan) Kaidah ini hanya berlaku untuk bidang fiqh mu’amalah, sedangkan untuk fiqh ibadah digunakan kaidah الْأَصْلُ فِي الْعِبَدَةِ الْمبُطْلَانُحَتَّى يَقُمَ الدَّلِيْلُ عَلَى الْأَمْرِ (Hukum asal ibadah mahdhah adalah batal sampai ada dalil yang memerintahkannya), kaidah ini semakna dengan لَاحُكْمُ لِلْأَفْعَالِ قَبْل وُرُوْدِ الشَّرْعِ (Tidak ada hukum terhadap suatu perbuatan sampai datangnya syari’ah) dan kaidah الْمَشْكُوْكُ فِي وُجُوْبِهِ لَا يَجِبُ فِعْلُهُ (Yang meragukan tentang hukum wajibnya, maka tidak wajib dilakukan).
·         الْيَقِنُ يُزَالُ بالْيَقِيْنِ مِثْلِهِ  (Apa yang yakin bisa hilang karena adanya bukti yang meyakinkan pula)
Misalnya, Si A berhutang kepada si B, tetapi kemudian ada bukti bahwa si A telah membayar utangnya kepada si B, misalnya ada kwitansi yang ditandatangani si B yang menyatakan bahwa hutang A sudah lunas. Maka, si A yang tadinya berhutang, sekarang sudah bebas dari hutangnya
·         أَنْ مَاثَبَتَ يَقِيْنٍ لَا يُرْتَفَعُ إِلَّا يَقِيْنٍ  (Apa yang ditetapkan atas dasar keyakinan tidak bisa hilang kecuali dengan keyakinan lagi)
Contohnya, Thawaf ditetapkan dengan dasar dalil yang meyakinkan yaitu harus tujuh putaran. Kemudian dalam keadaan thowaf, seseorang ragu apakah yang dilakukannya putaran keenam atau kelima. Maka yang meyakinkan adalah jumlah yang kelima. Jadi dalam hal yang berhubungan dengan bilangan, apabila seseorang itu ragu, maka bilangan yang terkecil itulah yang meyakinkan.
·         الْأَصْلُ فِي الْكَلَامِ الحَقِيْقَةُ  (Hukum asal dari suatu kalimat adalah arti yang sebenarnya)
Kaidah teresebut lebih dekat dimasukkan ke dalam kelompok kaidah ushul daripada kaidah fiqh. Alasannya, kaidah tersebut berkenaan dengan kebahasaan. Sedangkan kaidah-kaidah bahasa berhubungan erat dengan arti yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits, misalnya apabila seseorang berkata:”Saya mau mewakafkan harta saya kepada anak Kyai Ahmad”. Maka anak dalam kalimat tersebut adalah anak yang sesungguhnya, bukan anak pungut dan bukan pula cucu. Demikian pula kata-kata hibah, jual beli, sewa-menyewa, gadai dan lain-lainnya di dalam akad harus diartikan dahulu dengan arti kata yang sebenarnya, bukan arti kiasannya.
·         الْأَصْلُ فِي الْأَبْضَاعِ التَّحْرِيْمُ (Hukum asal bersenggama adalah haram)
Persoalan lain yang menurut fikih (Islam) memiliki hukum asal haram adalah melakukan persetubuhan (senggama). Dalam kaidah ini disebutkan bahwa ketentuan dasar melakukan persetubuhan dengan perempuan adalah haram, kecuali dengan ada sebab yang diyakininya bisa menghalalkannya, yakni pernikahan. Misalnya, Arfan ragu mengenai sah tidaknya akad nikahnya dengan Ani. Karena Arfan meragukan salah satu dari syarat nikah, maka ia tidak boleh berhubungan badan dengan Ani. Sebab, hukum asal melakukan hubungan badan adalah haram.
·         لَاعِبْرَةُ بِالظَّنِّ الَّذِي يَظْهَرُ خَطَاءُهُ (Tidak dianggap [diakui], persangkaan yang jelas salahnya)
Kaidah ini dapat dimisalkan seperti apabila seorang debitor telah membayar hutangnya kepada kreditor, kemudian wakil debitor atau penanggungjawabnya membayar lagi uang debitor atas sangkaan bahwa hutang belum dibayar oleh debitor, maka wakil debitor atau penanggungjawabnya berhak meminta dikembalikan uang yang dibayarkannya, karena pembayarannya dilakukan atas dasar prasangka yang jelas salahnya.
·         لَا عِبْرَةُ لِلتَّوَهُّمِ (Tidak diakui adanya wahan atau kira-kira)
Bedanya zhann dan wahann adalah di dalam zhann yang salah itu persangkaannya. Sedangkan dalam wahann, yangsalah itu zatnya. Apabila seseorang meningal dengan meninggalkan sejumlah ahli waris, maka harta warisan dibagikan diantara mereka, tidak diakui ahli waris yang dikira-kira
3.      Hubungan kaidah al-yaqin dan al-syak dalam beberapa bidang
a.       Bidang ibadah

b.      Bidang muamalah maliyah
c.       Ahkam al-usrah
d.      peradilan












BAB III
PENUTUP
Al-yaqin adalah sesuatu yang tetap karena penglihatan pancaindra atau dengan adanya dalil. Al-syak adalah suatu pertentangan antara kepastian dengan ketidakpastian tentang kebenaran da kesalahan dengan kekuatan yang sama, dalam arti tidak dapat dipilih mana yang paling benar diantara keduanya.
Macam-macam Kaidah Cabang Al Yaqinu La Yuzalu Bi al-Syak
·      الْأضصْلُ بَقاءُ مَاكَانَعَلَى مَاكَانَ (Asal itu tetap sebagaimana semula bagaimanapun keberadaannya)
·         الْأَصْلُ الْعَدَمُ (Hukum asal adalah ketiadaan)
·         الْأَصْلُ فِي كُلِّ حَادِثِ تَقَدِّ رُهُ بِأَقْرَبِالزَّمَأنِ  (Asal setiap kejadian dilihat dari waktu yang terdekat)
·         الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ حَتَّى يَدُلَّ الدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ (Hukum asal segala sesuatu adalah kebolehan sampai ada dalil yang menunjukkan keharamannya)
·         الْيَقِنُ يُزَالُ بالْيَقِيْنِ مِثْلِهِ  (Apa yang yakin bisa hilang karena adanya bukti yang meyakinkan pula)
·         أَنْ مَاثَبَتَ يَقِيْنٍ لَا يُرْتَفَعُ إِلَّا يَقِيْنٍ  (Apa yang ditetapkan atas dasar keyakinan tidak bisa hilang kecuali dengan keyakinan lagi)
·         الْأَصْلُ فِي الْكَلَامِ الحَقِيْقَةُ  (Hukum asal dari suatu kalimat adalah arti yang sebenarnya)
·         الْأَصْلُ فِي الْأَبْضَاعِ التَّحْرِيْمُ (Hukum asal bersenggama adalah haram)
·         لَاعِبْرَةُ بِالظَّنِّ الَّذِي يَظْهَرُ خَطَاءُهُ (Tidak dianggap [diakui], persangkaan yang jelas salahnya.
·         لَا عِبْرَةُ لِلتَّوَهُّمِ (Tidak diakui adanya wahan atau kira-kira)








DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Sarwat, Seri Fiqih Kehidupan, (Jakarta:DU Publishing, 2011)hal 350
Imam Musbikin, Qawa’id Al-fqhiyah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001) hal 50
http:// ibutina.com/2010/05/qa'idah-fiqhiyyah-kedua



[1] Ahmad Sarwat, Seri Fiqih Kehidupan, (Jakarta:DU Publishing, 2011)hal 350
[2] Imam Musbikin, Qawa’id Al-fqhiyah, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001) hal 50
[3] http:// ibutina.com/2010/05/qa'idah-fiqhiyyah-kedua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar